Cerita sebelumnya:impian
sang putri bertemu ayah
11
TAHUN KEMUDIAN,,,,
Hari dimana mentari menunjukan sinar
terang dan hangatnya tepat diatas langit biru seakan menyinari bumi dengan
keceriaan. Akan tetapi apakah yang terjadi dirumah anak bernama Jesica Najma
Orlin Prayoga anak dari Adeeva Afsheen Myesha seorang ibu rumah tangga yang
mengurusi perusahaan sang suami dan ayah bernama Prayoga Najwan seorang pemilik
perusahaan dan beberapa hotel yang hilang entah kemana sejak 17 tahun lalu tersebut
? apakah dia dan keluarganya disinari juga oleh cahaya keceriaan sang mentari atau sebaliknya kegelapan yang mungkin dapat membuatnya
bersedih ???
DOOORRR
!!!
Suara letusan terdengar keras dari
dalam rumahnya dengan cepat seorang gadis membuka pintu rumahnya dan ternyata
banyak orang di dalamnya. Keluarga, tetangga, kedua sahabatnya, dan 2 orang
yang Jesi tak mengenalinya
“HAPPY BIRTHDAY !!!” semua orang
berteriak gembira, dan seorang gadis memakai dress pink soft dan memakai hijab merah yang masih berdiri di depan
pintu tersebut terkejut, bukan main. Di susul oleh pria muda berumur 27 tahun
yang terlihat kelelahan karna berlari. Kemudian dia masuk keruang keluarga yang
berada dilantai atas dilihatnya sekeliling ruangan rumahnya yang cukup luas
telah dipenuhi dekorasi bertema barbie dan
berwarna pink soft yang merupakan
kesukaan dari sang gadis tersebut sejak kecil.
“selamat ulang tahun tuan putri jesi
yang bunda sayang” sambil mencium lembut pipi sang anak yang terlihat memerah
padam
“makasih bunda, jesi seneng
bangeeeeetttt ini benar-benar sweet
seventeen ” senyum yang lebar terukir di bibirnya yang berwarna merah muda,
disambut tawa semua orang yang ada disana.
“bunda mereka siapa ?” tanya Jesi
sambil menunjuk dua orang yang duduk di sofa berwarna merah tersebut.
“itu om Yudhi dan tante Adel, oh ya,
dia dimana ya?” sang bunda kemudian pergi mencari seseorang. Jesi menyapa kedua
orang yang akrab dengannya di masa kecilnya tapi mereka pergi beberapa tahun
yang lalu ke Paris untuk berbisnis
“hai Jesi kamu tambah cantik ya,
mirip banget dengan bunda kamu dulu” ucap wanita yang dihampirinya tersebut
“iya tante makasih, tante juga
cantik, om apa kabar ?” ujar Jesi. Dan mencium tangan lelaki yang merupakan
suami wanita tadi
“baik nak, wah kamu kayaknya tambah
dewasa ya” mengelus kepala Jesi yang ditutupi hijab tersebut
Dia
dimana sih, atau jangan-jangan dia nggak nepatin janji orang tuanya aja datang,
kok dia nggak datang gumam Jesi
kesal dan pergi ke kamarnya.
Jesi menaiki anak tangga sementara
bundanya memulai acara,kemudian jesi membuka pintu bertuliskan ‘kamar jesica’ jesi memasuki kamar yang dipenuhi perabotan
berwarna pink soft mulai dari kasur,
gorden, tempat duduk, lemari, dan meja hiasnya yang sudah dipenuhi hadiah ulang
tahunnya yang ke 17 tahun tersebut. Kemudian jesi membuka lemari dan mengambil
kotak bermotif mawar tertulis diatasnya Athar
serta Jesi dan membukanya, terdapat beberapa foto masa kecil jesi bersama
seorang anak lelaki, tiara kecil yang sudah cukup lama disimpan dan tak
terpakai. Kemudian jesi mencari-cari sesuatu.
“dimana ya “ jesi kesal tapi terus
mencari, tak lama kemudian seseoran masuk ke kamar jesi
“ jesi cari apa ?, sudah waktunya
potong kue “ lelaki yang sama ketika menyusul Jesi masuk kerumah setelah bunyi
letusan
“bentar kak, Jesi cari music box warna pink itu kak, kak adit liat nggak “ tanya Jesi gelisah
“mungkin dia tadi ” jawab kak adit
kakaknya jesi tak pasti
“siapa kak ?”
“lelaki yang tadinya bantuin kakak
bawa hadiah kekamar kamu, terus kakak turun duluan soalnya dipanggil bunda.
sudahlah nanti kakak tunjukan tapi kamu harus ke bawah dulu, ditunggu semua orang loh”
“ih kakak sih kok orang asing di
suruh masuk” ujar Jesi dengan nada kesal dan berjalan menuruni anak tangga.
Kakaknya pun tertawa melihat adiknya tersebut kemudian dia keluar kamar dan menutup
pintu kamar Jesi.
Sesudah acara sesuai yang di katakan
oleh kakaknya tadi jesi ditunjukan kepada seseorang lelaki dan langsung
menegurnya
“hai kamu, ini jesi adik ku, dia mau
berbicara sama kamu” kemudian adit pergi meninggalkan mereka berdua
“hai ! apa kabar ? kamu kelihatan
makin cantik ya, tadi aku dibilangin bunda kamu buat ngobrol sama kamu” tanya
lelaki tersebut, kemudian jesi melihat lelaki tampan yang tampak seumuran
dengannya memakai jas abu-abu tersebut..
“hai juga, makasih. Maaf tapi kamu
siapa ? dan kamu kan yang ambil music box
punya aku” tanya jesi dengan kesal dan tak sabaran
“ astaga kamu lupa ya ? padahal aku
kasih kamu music box tersebut biar
inget sama aku, ternyata nggak mempan ya, tuan putri Jesi ?. “ lelaki itu
bertanya kembali. Jesi mengingat kembali perkataan tersebut. Dan jesi pun
terkejut dan langsung memeluk lelaki tersebut dan menangis
“Athar ? kenapa kamu lama banget
ninggalin aku ? aku kangen, aku nggak bisa lagi main sama kamu dan aku melewati
masa anak-anak ku tanpa teman ku” Jesi menangis di pelukan Athar
“Allez, il n'y a aucun moyen de la princesse me pleurer, je l'ai déjà été
promis moi avec vous , Jesi*” dengan logat french nya, bahasa yang biasa digunakan dia di Paris. Jesi terlihat
sedikit mengerti
“Finalement, vous cette promesse , Athar **” jawab Jesi yang tak pasti.
“ dari mana kamu bisa ?” Athar pun penasaran
“J'apprends , prie pour que vous revenez et parlez couramment ***” Jesi menjulurkan lidah dan
mereka pun tertawa. Ketika mereka masuk kedalam rumah Jesi melihat kakak dan bundanya memeluk seorang
pria paruh baya dan menangis dipelukan pria tersebut.
“tante, pria itu siapa, kenapa dia membuat bunda menangis” Jesi berkata pada Alda mamanya Athar.
“dia ayahmu, nak “ bunda yang mendengar pertanyaan Jesi dan langsung melepaskan pelukannya
“Ayah ? “ kemudian Jesi berlari memeluk pria tersebut
“iya sayang, aku adalah ayahmu, dan kamu adalah putri ku “ membalas pelukan Jesi
“ ayah kemana saja ? Jesi kangen sama ayah” Jesi menangis sejadi-jadinya dipelukan sang ayah.
“ maafkan ayah nak selama ini ayah pergi bersama om Yudhi, karena ada urusan yang tidak boleh
diketahui siapa pun”
“iya maaf kan om juga karna tak memberi tahu mu Jesi” Yudistira menghampiri Jesi yang sedang
menangis tersebut
“ tapi kenapa ? ayah, Jesi juga minta maaf karna berprasangka buruk terhadap ayah, Jesi pikir ayah
pergi karena Jesi” Jesi berlutut di kaki ayahnya tersebut.
“sudah lah sayang sekarang keluarga Prayoga kembali. Dan ayah Janji nggak akan tinggali kalian lagi”
membantu Jesi berdiri dan mengusap kepala Jesi yang menggunakan hijab tersebut.
“ iya anggap lah semua yang terjadi adalah mimpi buruk, sekarang bunda ada disini menjadi
penangkal mimpi burukmu itu” sang bunda akhirnya mengukir senyum diwajahnya. Kemudian memeluk Jesi
“kakak juga” adit maju dan memeluk Jesi juga
“ kami juga keluarga Yudhistira takkan menyembunyikan kebenaran dari mu lagi, Jesi, maafkan om ya”
Yudistira kemudian merangkul anak dan istrinya
Mentari perlahan menghilang seakan tau kalau tugasnya selesai untuk memberi kecerian kepada
keluarga Prayoga dan Yudhistira hari itu, hari dimana Jesi menemukan kegembiraan, keceriaan, dan kasih sayang
orang yang dia sayangi. Athar pun meminta maaf kepada Jesi karna telah mengambil music box milik Jesi kemudian
dikembalikan lah kepada Jesi, begitu pun sebaliknya Jesi meminta maaf untuk kesalah pahaman yang ditujukannya
kepada Athar. Jesi akhirnya kembali ke sifat asalnya yaitu Jesi yang mengembirakan.
Athar pun memutuskan untuk pindah kembali ke indonesia, Jesi dan Athar pun kuliah ditempat yang sama,
sedangkan kakaknya Jesi yaitu Aditya Najwan Prayoga, menikah dengan wanita solehah bernama Afrah Aliyah
seorang guru mengaji dan teman Aditya di kuliah nya dulu. Sedangkan Jesi dijodohkan oleh kedua orang tuanya
dengan Athar anak dari keluarga Yudhistira
Hari demi hari kebahagian terus muncul kepada Jesi dan kedua keluarga tersebut.
TAMAT
*ayolah, nggak mungkin tuan putri ku menangis, aku kan sudah menepati janji ku
sama kamu, Jesi